Selasa, 27 Mei 2014
GALUH
Dia
berjalan di antara kerlap-kerlip lampu kota. Bising hiburan yang penuh omong
kosong dia lewati begitu saja. Dia terus berjalan melewati debu-debu yang
diterbangkan oleh kakinya yang telanjang. Kakinya nampak tak merasa lelah untuk
terus berjalan. Dilewatinya sebuah gudang tua. Gudang gelap dengan pintu yang
terbuka. Gudang yang pernah terbakar dan kini ditinggalkan oleh pemiliknya.
Lama dia melihatnya. Dia menatap gudang seperti patung pengemis yang meratapi
nasib perutnya. Dia terus terbuai dalam keasyikkan tatapan hampa. Kosong. Tak
ada gairah dimatanya.

