Rabu, 21 Mei 2014

Teori Konflik dan Implikasinya Terhadap Pendidikan

Teori Konflik dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Memahami Marx mengenai stratifikasi sosial tidak lain harus melihat teori kelas yaitu “Sejarah peradaban umat manusia dari dahulu sampai sekarang adalah sejarah pertikaian dan konflik antar kelas.” Marx selalu melihat bahwa hubungan manusia terjadi dari adanya hubungan posisi masing-masing terhadap sarana produksi. Marx berkeyakinan bahwa posisi dalam struktur sangat mendorong dalam upaya memperbaiki nasib mereka dengan ditunjukkan adanya kelas borjuis dan kelas buruh.

PENDIDIKAN MENURUT TEORI KONFLIK

PENDIDIKAN MENURUT TEORI KONFLIK
Teori konflik (conflik theory) melihat tujuan pendidikan sebagai upaya menjaga kesenjangan sosial dan melestarikan kekuasaan orang-orang yang mendominasi masyarakat. Teori konflik untuk beberapa aspek melihat fungsi pendidikan sama dengan alur dianut oleh fungsionalis. Fungsionalis melihat pendidikan sebagai kontribusi yang menguntungkan masyarakat yang teratur, namun teori konflik melihat sistem pendidikan sebagai mengekalkan status quo dengan cara menumpulkan kelas bawah menjadi pekerja yang patuh.

cerita

Cerita



Cerbung:  


Cerpen: 





Tentang Pendidikan

Ini Tulisan Tentang Pendidikan:

Media Metode dan Microteaching    PERT 1 PERT 2

PENDIDIKAN MENURUT TEORI KONFLIK

Pendidikan Multikultural   Pert 1

Teori Konflik dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Mata Kuliah: Media, Metode, dan Microteaching
Dosen         : Dr. Cik Suabuana, M.Pd., dan Siti Nurbayani K, S.Pd., M.Si.

Kuliah Pertemuan Ke 2
MODEL, PENDEKATAN, STRATEGI, METODE, TEKNIK PEMBELAJARAN

A. MODEL
     Udin (1992: 109-110) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang melukisan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang berfungsi sebagai pedoman bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Maksud dari prosedur sistematik yaitu pembelajaran harus dilakukan secara berurutan, prosedural atau jika kita ibaratkan, guru dalam melakukan proses pembelajaran seperti orang yang sedang menapaki anak tangga yang dilakukan setahap demi setahap. Jadi, ada perencanaan yang diibaratkan seperti lingkaran manajemen dimana ada planning, organizing, monitoring evaluasi, dan development. Rencana ini menjad siklus yang terus berputar. Guru profesional senantiasa mengevaluasi kinerja diri guna adanya pengembangan. Evaluasi seperti ini bisa dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas. Sedangkan Bruce Joyce dan Marsha Weil (Peter F. Olivia, 1982: 385) mendefinisikan model pembelajaran sebagai sebuahrencana atau pola yang dapat digunakan untuk mendisain materi pembelajaran, memandu pembelajaran di kelas dan setting lainnya.
Mata Kuliah: Sosiologi Agama
Dosen         : Dr. H. Aceng Kosasih, M.Ag.


PENGANTAR SOSIOLOGI AGAMA
(Pertemuan Pertama)


1. Pengertian Sosiologi Agama
    Agama dalam disiplin ilmu agama dapat diartikan dengan seperangkat aturan yang harus dipegang teguh oleh pemeluk agama. Akantetapi, dalam Sosiologi, ketika berbicara tentang agama, agama tidak berbicara tentang apa seharusnya atau agama mana yang benar. Tetapi, Sosiologi agama berbicara mengenai fakta apa yang terjadi di masyarakat beragama baik latar belakang agamanya, perilakunya, apa yang difahami oleh pemeluk agama tentang apa yang dianutnya, struktur sosial dalam agama, dll. Sosiologi memandang agama sebaga sebuah fenomena sosial. Dengan demikian dapat diartikan bahwa Sosiologi Agama adalah disiplin ilmu yang mempelajari masyarakat beragama.
   

SATU Part 1

SATU

         “Apakah ayah marah padaku? ” bisik Nita dalam hati. Sambil memasak, sesekali dia melirik punggung ayahnya yang sedang duduk di meja makan. Ketika hendak mengangkat panci, tak sengaja tangannya menyentuh badan panci yang masih panas.

         “Auuww,” spontan Nita berteriak.

          Ayahnya tetap diam. Tak ada respon.

         “Apakah ayah ketiduran di meja makan? Atau dia benar-benar marah sehingga tak lagi peduli padaku? Kenapa dia tidak mendengar teriakkanku?” kembali Nita bertanya pada dirinya sendiri.

         Nita mematikan kompor yang masih menyala. Menuangkan sayur di panci ke mangkuk besar.  Lalu dia membawa mangkuk itu ke meja makan.